
Kenapa perempuan ?Sudah tentu, selain mereka masih banyak lagi nama di luar daftar yang siap menggantikan. Belum lagi bibit-bibit muda yang tengah digodok, seperti halnya Yevgeniya Svintsov (10 tahun) yang kini sedang digembleng di Sparta. Ia disekolahkan oleh sang ayah, Mikhail, sejak usia lima tahun. Dengan latihan dua jam sehari, lima hari seminggu, sang ayah berambisi menerjunkannya ke pelbagai turnamen mulai tahun depan, untuk kemudian mengirimkannya ke sekolah tenis di Eropa dua tiga tahun berikutnya.
“Harapan saya, pada umur 15 nanti Yevgeniya sudah masuk peringkat WTA, dan saat umur 20 tahun, ia nomor satu,” kata Mikhail Svintsov.
Namun, kenapa keberhasilan kaum perempuan tidak diimbangi oleh para pria? Setelah Kafelnikov, Safin, siapa lagi yang masuk dalam persaingan?
Kamelzon menjelaskan, “Pada umur 15-an, remaja pria dihadapkan pada banyak godaan seperti rokok, perempuan, dan bir. Sebaliknya, remaja putri justru bisa lebih fokus pada target profesional.”
Semua memang tak lepas dari gaya hidup dan budaya. “Bagi saya, itulah nasib buruk bangsa ini yang remajanya banyak salah urus. Sekolah berantakan, kerjanya minum-minum dan ketika mabuk menyerukan sumpah serapah di jalanan,” kata Tamara Chikina, seorang warga. “Perlu upaya lebih keras untuk memperbaiki generasi muda. Menyemangati mereka untuk berolahraga, terutama tenis pro, menjelaskan kepada mereka bahwa itu sebuah investasi.”
Bagi banyak orang, kegairahan tenis yang sekarang terjadi harus terus dipelihara. Kafelnikov dan Safin sudah memberikan contoh akan semangat kuat untuk lepas dari jebakan gaya hidup, antara lain dengan tinggal di negeri lain.
“Tapi jangan anggap, yang terjadi pada diri petenis putri sudah aman,” Larisa Preobrazhenskaya (78) bekas pelatih Kournikova mengingatkan. “Melihat kenyataan bahwa pelatih di akademi sebagus Spartak hanya digaji senilai AS $ 200 sebulan, federasi tenis Rusia harus melakukan sesuatu agar momentum ini tidak hilang.”
Barangkali induk organisasi tenis memang tak banyak terlibat. Maka ada anggapan, setiap petenis berprestasi dan menjadi besar karena faktor diri atau keluarganya. Mereka tidak merasa dibesarkan oleh negara, tidak pula difasilitasi negara. Pantas bila di dalam negeri, petenis yang melanglang buana ke banyak turnamen tidak terlalu dihargai. Sharapova tidak dianggap “orang Rusia” karena sejak kecil tinggal di AS. Demikian pula Kafelnikov dan kakak beradik Safin-Safina.
“Kafelnikov dan Kournikova tidak disukai di Rusia. Kafelnikov tidak pernah bicara pada media, dan kalaupun bicara, isinya mengeluh,” ucap Oksana Polonskaya dari mingguan liberal di Moskwa, Moskovskiye Novosti. “Mereka jarang datang ke Rusia. Malah dalam suatu konferensi pers di Moskwa, Kournikova pura-pura tidak paham bahasa Rusia. Ini kenyataan yang memprihatinkan. Kita memang tidak pernah bangga akan diri sendiri.”
Tak sepenuhnya benar. Sebab Maria Sharapova, meski tidak tinggal di negeri asalnya dan tidak disukai, tak pernah lupa berterima kasih kepada negaranya. “Saya selalu mempersembahkan setiap kemenangan bagi tanah kelahiran saya,” kata Kournikova mantap
sumber : intisari online



